Dosen FKIP UMSU Muhammad Arifin foto bersama Novelis Ahmad Fuadi-01

Bertemu Ahmad Fuadi; Menulislah yang Membuat Dirinya Bergetar

Dosen FKIP UMSU Muhammad Arifin foto bersama Novelis Ahmad Fuadi-01
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-109 menjadi sejarah bagi saya. Sebagai dosen di FKIP UMSU, perjalanan bertemu dengan Ahmad Fuadi, novelis yang ternama dengan karya “Negeri 5 Menara” menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi berkesempatan semeja makan bersama dan berdiksui terkait dunia tulis menulis.

Ahmad Fuadi yang sejak remaja meninggalkan kampung halaman di pinggiran Danau Maninjau berbagi cerita bagaimana dirinya menulis dan akhirnya membuat berkeliling ke 43 negara dan kebanyakan gratis. Wah! Siapa yang tidak kepingin.

Diceritakan, dirinya menulis karena melihat ibunya yang rajin menulis. “Saya terinpirasi dari ibu yang seorang guru. Setiap selesai memeriksa tugas muridnya, selalu menulis di buku harian. Karena penasaran. Menulis buku apa?, sekali pernah saya intip isinya. Ternyata ibu saya menulis tentang hidup keluarga,” ujad Ahmad Fuadi. Dirinya hadir ke Medan karena memang menjadi narasumber pada Road Show Perpustakaan Nasional 2017 di Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumut, Jalan Brigjen Katamso Medan. 

Cerita lain ternyata dunia membaca dan menulis memang sudah ditularkan keluarganya. Ketika masih balita Ahmad Fuadi cucuk kesayangan kakeknya. Kakeknya memiliki ruangan rahasia. Kenapa rahasia?  karena memang tidak semua orang boleh masuk. Ahmad Fuadi terheran-heran ternyata isi ruangan seluas 3×3 m buku. Dari lantai sampai langit-lanti berisi buku. “Saya yang masih balita tidak mengetahui apa-apa. Hanya main saja, bahkan terkadang ngompol,” kenangnya.

Namun, lama kelamaan dirinya memahami ternyata dari banyak buku tersebut dunia sangat luas. Ada es terbang ternyata salju. “Dari situ ada keinginan suatu saat saya akan ke sana dan dari banyak membaca, perjalanan hidup saya mengantarkan ke sana di antaranya mendapat beasiswa ke Kanada, Singapura dan mendapat beasiswa magister ke Amerika dan London,”ceritanya.

Dosen FKIP UMSU Muhammad Arifin foto bersama Novelis Ahmad Fuadi

Semua beasiswa berawal dari membaca. Membaca memudahkan dirinya melamar beasiswa karena melamar beasiswa ke luar negeri selalu ada syarat menulis esai pribadi. Semua jadi terbantu dari kegemaran membaca dan menulis. Sedangkan dari khusus menulis membuat dirinya diundang mengajar di kampus ternama di AS yakni UC Berkeley pada tahun 2014. Novel dibahas menjadi materi kuliah. Tahun 2016 diundang pemerintah Jepang untuk berkeliling negara tersebut,

Diskusi santai saya manfaatkan untuk menanyakan bagaimana sih menulis yang baik sehingga bisa dicontoh banyak kalangan khususnya mahasiswa. Ahmad Fuadi menegaskan, menulis harus memiliki niat yang jelas. Pepatah arab mengatakan “Kalau sudah jelas dan jelas keinginan maka terbuka jalan”. Sebelum menulis hendaknya diperbaiki niat ke dalam. Sebelum menulis keluar pahamilah diri kita karena memang menulis adalah cerminan tentang diri.
“Saya menulis buat apa dan apa misinya. Tanya lagi, apa yang membuat benar-benar senang sampai tergetar hati kita, tema apa itu. Tulislah lah tema tersebut, karena itu yang membuat tulisan kita ‘berdetak’. Ini pencarian ke dalam niat dan minat,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, jika ada mahasiswa biologi tetapi tertarik seni dan seninya lebih banyak. Maka tulis tentang seni lebih bagus daripada biologi. Nah, setelah ketemu niat dan tema yang menggetarkan jiwa, sedangkan teknis bisa dipelajari. “Bagaimana niat dan tema yang membuat tergerak hati kita. Kalau teknik harus riset, puisi pakai riset, riset yang mengisi jiwa tulisan tersebut,” katanya.

Background

Penulis Novel Negeri 5 Menara-Ahmad Fuadi
Background meniat karena mengamal kan nasehat guru di pesantren.”Guru saya selalu mengulang-ulang hadits “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Setiap orang punya keunikan masing-masing yang bermanfaat. Saya menemukan mungkin dengan cara menulis saya bisa bermanfaat,” katanya.
Ahmad Fuadi mengaku, di novel Negeri 5 Menara adalah kisah tentang hidupnya yang ditambahi drama dan fiksi. Ketika itu dia berpikir, seorang anak kampung tinggal di pinggir Danau Maninjau, merantau ke Jawa dan bisa keliling dunia sampai 43 negara.
“Saya pikir-pikir ini cerita menarik kalau dibagikan ke generasi muda mungkin terbakar jiwanya. Anak kampong pun boleh kemana-mana. Istri saya bahkan tidak menyangka ada orang bisa berjuang seperti it. Mengapa tidak ditulis?, Kombinasi, ada semangat berbagi dan dukungan keluarga mencoba saya menulis novel “Negeri 5 Menara” selama dua tahun, pada 2007-2008. Saya juga melakukan riset dan berwawancara dengan ibu,” ujarnya.
Kepada orangtua, dosen dia berpesan agar semangat membaca bisa dimulai di tengah keluarga. Membaca yang paling melekat di hati yakni membaca di tengah keluarga. Bapak/ibu yang punya anak dan keponakan. Minat baca harus dimulai dari keluarga, perpustakaan mendukung, tapi minat baca ada di kamar-kamar kita, di ruang rumah kita, di meja makan kita. Kalau bapak/ibu sudah memperlihatkan minat baca di hadapan anak-anak. Mungkin anak-anak akan menjadi ‘korban’. “Saya korban dari kakek dan nenek saya suka membaca, korban dari ibu saya yang jalan-jalan membawa makanan dan satu buku kecil atau koran. Itu meracuni saya tapi racun yang enak. Artinya, membaca benar-benar membuka jendela dunia dan membuat saya seperti ini,” ucapnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website